Alhamdulillah setelah sekian lama, akhirnya saya bisa ikut kajian di Daarut Tauhid pada malam Jumat yang diisi oleh Aa Gym. Setiap malam Jumat sehabis sholat Isya’ di Daarut Tauhid rutin diadakan kajian, namun saya tidak pernah mengikuti karena biasanya malam Jumat ada praktikum mulai jam 17.00 hingga pukul 21.00.
Rencananya setelah semua kegiatan kuliah selesai, mahasiswa muslim teknik perminyakan pingin ngadain kegiatan ikut pengajian di sana, sesekali lah. Biasanya kalau mentoring, kita di Salman dan di sekitar kampus. Biar tambah semangat, kita keluar ke Daarut Tauhid. Apalagi kajian malam Jumat ini bertepatan dengan hari terakhir ujian atau hari terakhir perkuliahan, mumpung mahasiswa belum pada mudik.
Seminggu sebelum keberangkatan, ternyata jadwal ujianya ada yang mundur. Angkatan 2007 ujian elektronika dasar diundur pada hari Jumat. Sedangkan angkatan 2006 juga ada ujian pada hari Jumat. Sehingga yang ikut kegiatan ini tidak banyak. Sayang sekali.
Kamis sore kang Adek Satim sudah menunggu kami di depan gedung teknik perminyakan. Kang Adek adalah pembimbing kami di mahasiswa muslim teknik perminyakan. Kang Adek mahasiswa teknik perminyakan angkatan 2004, dan sudah lulus S1. Sekarang beliau melanjutkan lagi kuliah S2.
Tentang Kang Adek, Kang Adek ini memang jadi teladan di angkatanya. Kata-kata yang terucap sangat terjaga. Kata senior di waktu kaderisasi, “kalau Adek main ke kost-an, file file bokep yang lu punya bakalan ilang entah kemana”. Dan satu hal yang luar biasa dari Kang Adek adalah beliau tidak pernah mengeluh. Kalau diminta tolong, dengan senang hati Kang Adek membantu. Memang pantas kita tiru. Satu lagi waktu itu saat malam wisudaan, ada pertanyaan bagi para wisudawan siapakah cewek idamanmu, Kang Adek jawabanya lain. Di tengah jawaban-jawaban wisudawan lain yang “wuidih… wuidih…”, kang Adek menjawab cewek idamanya akhwat Shalihah. Luar biasa ya.
Kembali lagi ke cerita pengajian ke Daarut Tauhid, pukul 17.30 kita berangkat, ada yang naik angkot dan ada yang naik motor. Kalau naik angkot dari ITB ke Daarut Tauhid, naik angkot Cicaheum-Ledeng trus turun di UPI. Habis itu jalan kaki sebentar lewat jalan geger kalong. Kalau naik motor, jalurnya juga sama tinggal ngikutin angkot. Buat parkir kendaraan, Daarut Tauhid sudah menyediakan fasilitas tempat parkir yang terletak di kompleks Pesantren Daarut Tauhid, masuk jalan kecil di sebelah minimarket.
Saya sendiri mengendarai motor berboncengan dengan teman saya. Kita sampai di masjid Daarut Tauhid pas adzan Maghrib. Langsung saja kita titipkan sandal dan tas, kemudian ambil air wudlu. Bisa dibilang masjid Daarut Tauhid ada tiga lantai. Lantai dasar untuk sekretariat, tempat wudlu, tempat penitipan sandal sepatu dan tas. Sedangkan lantai 2 dan lantai 3 untuk sholat. Kalau lantai atas penuh, lantai dasar juga ada sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk sholat. Secara keseluruhan, ukuran masjid Daarut Tauhid tidak terlalu besar tetapi suasana keislaman terasa sangat kental. Beda dengan masjid yang sebelumnya pernah saya lihat, di masjid Daarut Tauhid ada timer yang berfungsi sebagai pengingat waktu iqomah, sehingga bisa tahu waktu sholat sunnah tinggal sekian menit.
Usai sholat maghrib, kang Adek mengajak kita ke rumah makan. Setelah kita ambil makanan dan minuman, eh, ternyata semuanya dibayar kang Adek. Alhamdulillah, terima kasih kang Adek.
Hingga kemudian adzan Isya’ dikumandangkan, kita kembali ke masjid. Nah, seusai sholat Isya’ kajian segera di mulai. Banyak sekali yang ikut kajian ini sehingga masjid penuh. Kali ini Aa Gym memberikan isian tentang Asmaul Husna, dan sudah sampai pada Asma Allah Al Ghoni dan Al Mughni.
Terasa banget, kalau kita ikut kajian seperti ini. Rasanya Allah tambah dekat dengan kita. Masalah-masalah yang kita hadapi menjadi ringan. Ketauhidan, atau kepercayaan kita hanya kepada Allah merupakan hal yang paling mendasar di dalam beragama islam. Kalau hati kita senantiasa dibimbing oleh Allah, maka dengan otomatis kita dalam bersikap dan dalam mengerjakan ibadah, kita akan terjaga. Karena semua yang kita lakukan kita niatkan hanya untuk mencari ridlo Allah. Tidak ada sedikitpun rasa bergantung kepada selain Allah.
Allah maha kaya. Rizki, Allah yang mengatur. Misalkan sewaktu kita naik kendaraan, ban kita kempes tidak usah marah-marah. Ini adalah rizki bagi tukang tambal ban. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah sepelik masalah yang kita hadapi, meskipun kita dihantam masalah bertubi-tubi, kalau kita ingat Allah maka hati kita akan tenang. Dan kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan selama kita tidak pernah mengingat Allah.
Sebelum kajian diakhiri, ternyata ada salah satu jama’ah akhwat yang baru saja menjadi mu’alaf dan akan mengucapkan syahadat. Selesai mengikrarkan syahadat, kemudian Aa Gym bertanya, “Kenapa anda masuk islam?” Orang tersebut menjawab, “Saya masuk islam karena mendengar lagu dari Opick. Sebelumnya saya sangat membenci agama islam, namun ketika saya mendengarkan lagunya Opick, saya sangat tersentuh. Dan sekarang saya menemukan kebahagiaan sejati setelah saya masuk islam”. Orang tersebut menangis.
Subhanallah, lagunya Opick ternyata bisa menjadi jalan hidayah. Mudah-mudahan Opick mendapatkan balasan kebaikan dari Allah.
Hari ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga. Terima kasih ya Allah.
hidayah dapat datang dari mana saja..
jika Allah berkehendak..
tidak ada yang bisa menghalangi..
hebat rif