E=mc2
Salah satu dosen saya di Teknik Perminyakan ITB adalah Dr-Ing Rudi Rubiandini. Beliau mengajar Drilling atau Teknik Operasi Pemboran dan kemampuanya tidak diragukan lagi. Kalau di Teknik Perminyakan ITB kita memanggil pak dosen dengan “mas”, sedangkan bu dosen dengan panggilan “mbak” biar makin akrab.
Mas rudi ini jebolan Technische Universitat Clausthal, Germany. Dan kabarnya pada saat itu di Jerman mas rudi lulus paling cepat dengan predikat terbaik. S2 dan S3 bisa diselesaikan hanya beberapa tahun saja. Kalau di sini istilahnya “Cumlaude”. Tetapi karena lulusnya paling cepat mungkin mas rudi masuk kategori “Super cumlaude”.
Mas Rudi sudah dipercaya oleh Oil Company, makanya beliau sering diundang ke sana kemari oleh Oil Company untuk menangani problem terutama yang berhubungan dengan Drilling. Mas Rudi ini juga sering nongol di TV.
Ada sesuatu yang menarik ketika di ajar mas rudi. Mas Rudi ketika itu di kelas mengatakan bahwa, “Yang jenius adalah yang bisa mengatasi masalah rumit dengan solusi yang sangat sederhana.”
“Hukum Newton [ F = m.a ] Einstein [ E = mc2 ] sangat sederhana. Dan keduanya sakti sekali, bukan matematika yang rumit, ga pake integral lipat tiga, diferensial parsial dan sebagainya.”
Orang Indonesia suka silau, “Wah kamu hebat sekali ya kalau memberikan solusi memakai bahasa matematika tingkat tinggi. Aku sampai ga ngerti”.
Kalau dipikir-pikir emang bener sih kata mas rudi. Bukan berarti kita tidak boleh berbicara matematika tingkat tinggi atau persamaan fisika rumit. Tetapi kita sebagai pelajar memang dituntut untuk bisa memberikan solusi pada setiap masalah yang dihadapi dengan solusi sesederhana dan setepat mungkin. Karena kita menghadapi banyak orang yang kemampuanya sangat beragam. Dengan solusi yang lebih sederhana, maka orang lain lebih memahami apa yang kita maksudkan. Ini baru yang dinamakan jenius.

Komentar Pembaca