Home > Serba-Serbi > Merokok, Jangan deh..

Merokok, Jangan deh..

Waktu kecil kalau sedang melihat orang yang merokok aku jadi penasaran, apa sih enaknya merokok? Asap dihisap, dimasukkan ke paru-paru, trus dikeluarkan lagi lewat hidung sambil dengan bergaya. deuh.. Coba kalau asapnya bisa keluar lewat telinga, pasti kayak kereta api betulan😀 .

Orang tuaku tidak merokok dan melarang keras aku merokok. Aku dulu sampai dimarahi sama bapakku gara gara nyoba rokok diajak teman-temanku. Beruntung sekali waktu itu sekali coba merokok aku langsung kapok. Selain dimarahi sama orang tua, waktu itu saat pertama asap masuk tenggorokan, aku langsung batuk. Wah merokok ternyata rasanya nggak enak. Ga bakat merokok kali ya😛

Kenapa jangan merokok ?

Ada yang bilang merokok nggak mengurangi umur, buktinya banyak orang tua sekarang adalah perokok tapi masih kelihatan sehat dan berumur panjang. Memang sih. Kalau kuperhatikan kakek-kakek ku, hampir mereka semua adalah perokok. Tapi mereka semua petani yang sejak masih muda setiap hari berolah raga mencangkul di sawah. Makanya di waktu tua mereka masih sehat.

Kemarin baru saja ayah sepupuku yang umurnya masih sekitar 40 tahun meninggal dunia terkena kanker di jantung karena jadi pecandu rokok. Bibiku sekarang menjadi janda dan harus membiayai sekolah anak-anaknya. Kasihan kan. Mudah-mudahan keluarganya diberi ketabahan.

Sudah jelas di bungkus rokok ada peringatan keras :  “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.”   Ngeri juga kan misalkan gara-gara merokok, nanti kalau sudah tua kita terserang jantung, impotensi, dan kanker.

Tidak merokok dibilang banci dan ga jantan? Justru kalau diperhatikan dengan seksama para banci yang malah merokok.

Sekarang harga rokok per bungkus rata-rata Rp.4000,- hingga Rp.9000,- Ambilah contoh sehari beli satu bungkus Rp.6000,-  Kalau sebulan buat beli rokok udah keluar duit Rp.180.000,-  (6000 x 30)   dan kalau sudah setahun jadi Rp.2.160.000,- (180.000 x 12). Sayang , uang dua juta hilang buat beli rokok.

Ada yang beralasan, “Aku sehari cuman satu batang koq. Seminggu cuman satu batang koq”. Ok lah, sekarang seminggu cuman satu batang. Tapi nantinya seperti teman saya;  lama-lama seminggu satu bungkus, lama-lama sehari satu bungkus, lama-lama sehari dua bungkus, lalu tiga bungkus, dan…….

Merokok nggak hanya merugikan yang merokok. Orang yang merokok menghirup bahan kimia sekitar 15%. Sementara orang yang berada di sekitar perokok justru kebagian menghirup bahan kimia sekitar 85%. Sangat-sangat merugikan orang lain berarti ya.

Merokok juga bikin ketagihan. Di dalam rokok terdapat nikotin yang bisa menstimulasi cairan kimia yang mengendalikan rasa bahagia di dalam otak, dopamine (DA). Sebagian dari mekanisme dibelakang kemampuan nikotin untuk mempertahankan stimulasi pusat otak, bahkan setelah hanya sedikit merokok. Seperti yang dijelaskan oleh Dr’s Daniel McGehee dan Hulbert Mansvelder, di Universitas Chicago, dalam sebuah artikelnya:

Saat nikotin mengikat syaraf di bagian tertentu otak, syaraf-syaraf ini dengan cepat mengeluarkan beberapa DA, yang bertindak di daerah yang memberi “imbalan” di otak dan dirasakan sangat menyenangkan.

Namun sel-sel yang peka rangsangan ini kehilangan kepekaannya pada nikotin dalam waktu singkat, hanya dalam hitungan detik sampai beberapa menit, dan sel-sel ini berhenti mengeluarkan DA. Akhir cerita, bahagia? Tidak. Saat berbalik, tipe sel yang sama bagi nikotin juga terjadi pada terminal presynaptic di daerah otak yang sama.
Saat diaktifkan oleh nikotin, mereka menyebabkan pelepasan sinyal molekul, glutamin. Pelepasan glutamin baru ini dapat terjadi pada syaraf DA tertentu untuk menstimulasi mereka untuk melepaskan lebih banyak DA. Pengaktifan syaraf DA oleh glutamin menghasilkan kelanjutan pelepasan DA beberapa jam, dalam jangka panjang berpotensi merangsang input.
Jadi meskipun seseorang hanya mengkonsumsi nikotin selama beberapa menit, efek menyenangkannya dapat berlanjut selama beberapa waktu dengan cara ini. Ini dapat menjelaskan rasa menyenangkan jangka panjang dari otak bagian imbalan yang diinduksi oleh mengkonsumsi sedikit nikotin. Keseluruhan mekanisme serupa uintuk kejadian yang dilihat selama belajar dan mengingat dan mungkin menjadi sebuah langkah awal yang penting dalam pengembangan kecanduan.

Buat kalian yang belum pernah merokok, jangan pernah nyoba-nyoba rokok.

Tapi kalau sudah terlanjur kecanduan, memang butuh perjuangan untuk terbebas dari merokok. Cobalah kurangi sedikit-sedikit. Misalkan seminggu tujuh bungkus (@ 1 bungkus berisi 12 batang,) berarti seminggu mengkonsumsi 84 batang. Cobalah minggu selanjutnya kurangi merokoknya dua batang menjadi 82 batang, lalu minggu selanjutnya menjadi 80 batang, dan seterusnya.

Dan akhirnya nggak nyampe setahun (ngga nyampe 52 minggu), bisa terbebas dari rokok. Insya Allah.

  1. abduL[pamungkas]
    January 9, 2009 at 18:09

    tambah update virus rif….
    he..he….

    biar ga repot gtu…

  2. ariefhidayat
    January 9, 2009 at 18:16

    @ thanks masukanya nan

  3. Den baguse Iepien
    February 10, 2009 at 19:04

    Seperti buku iang uda aku baca,
    “stiap hal yg kta lakukan, tanpa satuan waktu, pasti akan kembali kepada kita.”

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: