Home > Serba-Serbi > Mudik naik kereta ekonomi

Mudik naik kereta ekonomi

Pada kesempatan liburan bulan desemkiaracondong-2ber kemarin, aku kepingin nyoba ngrasain naik kereta ekonomi. Kebetulan sekali teman kuliahku Hadi dan Mas Mamad mengajakku pulang bareng naik kereta ekonomi. Kami berkumpul di simpang dago lalu berangkat naik angkot Dago-Riung Bandung. Kami tiba di stasiun Kiara Condong  pukul 17.30, sampai di sana langsung beli tiket. Kami dapat kereta “Kahuripan” , jadwal pemberangkatan pukul 20.30 WIB dengan rute jalur selatan Bandung…Jogja…Solo hingga Kediri. Harga tiket yang kubeli, yaitu tujuan Solo hanya Rp.28.000, ini jauh lebih murah bila dibandingkan tiket kereta bisnis yang harganya sekitar Rp85.000 ataupun bus ekonomi, yakni sekitar Rp.70.000. Tetapi tempat duduk di kereta ekonomi tidak terjamin, harus cepet-cepetan nyari tempat duduk. Kata Hadi yang sudah pernah naik kereta ekonomi, dia pernah berdiri lama dan menunggu hingga ada penumpang yang turun untuk bisa duduk.

Keretanya pun tiba, “Nguuuuk nguuuuuk”, kami langsung bergegas, dan terlihat para calon penumpang sudah berjejer di sepanjang tempat pemberhentian kereta. Termotivasi oleh mencari tempat duduk, saat keretanya belum benar-benar berhenti aku langsung memberanikan diri melompat ke pintu gerbong kereta tanpa memeperdulikan keselamatan. Berhasil, kemudian aku langsung mencarikan tempat duduk untuk kedua temanku. Teman-temanku datang tidak lama kemudian. “Syukur dapat tempat duduk, Besok kalo pulang naik kereta ekonomi lagi yuk”, kataku setelah kuperhatikan fasilitas gerbongnya tidak jauh berbeda dengan kereta bisnis, kulihat juga tidak banyak yang berdiri. Hanya satu-dua orang. Teman-temanku tidak menolak tawaranku.

Saat kereta bejalan, bunyi kereta ternyata cukup keras, “JEGLEK JEGLEK JEGLEK”. Apa jalanya belumbandungsilhouette22 diaspal ya?. Kenapa ini ya? “Anggap aja home theater rief”, kata Hadi. Aku jadi teringat meteor attack yang ada di dufan, kursinya kan juga bisa gerak gerak, hiburku dalam hati. Namun begitu, kami menikmati  pemandangan sambil menjawab tebak-tebakan Mas Mamad yang kocak. Kelap kelip lampu kota Bandung semakin jauh terlihat, rumah dan sawah silih berganti menghiasi pemandangan.

“Rief, bangun rief!, ganti gerbong!”, Hadi membangunkan tidurku. Aku lihat baru nyampe stasiun di Tasikmalaya. Jam menunjukkan sekitar pukul 00.00. Kondisinya  sangat gaduh dan panik. Terdengar suara speaker dari stasiun, “Para penumpang di gerbong depan dimohon pindah ke gerbong belakang”. Aku segera mengambil tas dan mengikuti teman-teman mencari tempat di gerbong belakang. Ternyata jumlah gerbong kereta dikurangi sehingga banyak penumpang yang menjadi tidak dapat tempat duduk. Para penumpang  marah kepada petugas stasiun maupun petugas kereta karena tidak mengatur kekacauan. Beruntung kami hanya punya sedikit barang bawaan. Kasihan ada Ibu yang menggendong anak kecil. Kasihan juga ada satu keluarga dengan anak-anak kecilnya beserta barang bawaan yang banyak.

Akhirnya perjalanan tetap dilanjutkan. Kami pun berdiri. Karena capek berdiri, aku duduk di atas tasku. Gerbong benar-benar penuh sesak. Banyak penumpang yang terpaksa duduk lesehan di antara kursi. Hadi akhirnya juga duduk lesehan setelah berdiri lama. Sedangkan Mas Mamad ternyata tidak bisa duduk karena terdesak di dekat pintu gerbong, kalau tidur bisa-bisa jatuh keluar.

Kereta kembali berhenti di stasiun berikutnya. Kereta ekonomi berhenti di setiap stasiun kecil karena harus mengalah menunggu kereta yang bergerak dari arah berlawanan untuk lewat, sekaligus untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Setiap kereta berhenti di stasiun, para pedagang memasuki kereta,  padahal gerbong penuh sesak, “Tahunya, tahunya, tahu mas, masih baru”. “Akua, Mijon, Kopi, Jahe, yang anget, yang anget”. Para pedagang masuk lewat gerbong paling depan lalu nekat berjalan ke gerbong paling belakang melangkahi penumpang yang sedang duduk lesehan. Sampai-sampai ada pedagang  yang melangkahi kepala orang di sebelahku yang sedang tidur berbaring di lantai gerbong. Seakan akan penumpang diperlakukan seperti samp*h. Tapi mau gimana lagi, masalahnya para pedagang juga harus makan dan menghidupi keluarganya. Bisa laku sedikit sudah sangat senang meskipun penumpang hanya membeli 1000 rupiah.

Sampai stasiun di Kebumen banyak penumpang yang turun. Kami pun bisa duduk di kursi lagi meski terpisah. Sampai di stasiun Balapan ternyata kereta tidak berhenti. Kereta ekonomi ini memang hanya berhenti di stasiun kecil. Hingga akhirnya sampai di stasiun Jebres, aku pamitan sama teman-temanku. Hadi turun di Ngawi, sedangkan Mas Mamad turun di Kediri. Ini jadi pengalamanku naik kereta ekonomi untuk pertama kalinya.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: