Home > Serba-Serbi > Turut Berduka atas Meninggalnya Dwiyanto Wisnugroho

Turut Berduka atas Meninggalnya Dwiyanto Wisnugroho

berduka-cita

Turut berduka cita atas meninggalnya salah satu teman kita Dwiyanto Wisnugraha Geodesi ITB 07. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Dwiyanto yang akrab dipanggil Wisnu meninggal saat mengikuti kegiatan orientasi siswa yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Geodesi. Orang tua yang mendengar kabar ini tentu saja sangat berduka, anak yang disekolahkan supaya kelak menjadi orang yang berguna bagi keluarga, nusa dan bangsa meninggal di luar dugaan. Apalagi Wisnu dikenal nurut sama orang tua.

Kejadian ini menjadi pukulan keras bagi ITB dan dunia pendidikan di Indonesia. Sebelumnya, pertama kali mendengar kabar ini saya sempat kaget. Banyak versi cerita yang saya dapatkan dari teman-teman saya di  ITB.

Dari berita yang saya dapatkan dari situs ITB, tidak ada tindak kekerasan yang terjadi dalam acara tersebut. Seluruh peserta termasuk Wisnu, dinyatakan sehat setelah menjalani dua kali pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh tim Atlas Medical Pioneer Fakultas Kedokteran UNPAD. Tim AMP turut mendampingi selama acara berlangsung. Peserta pun telah diminta menyerahkan surat keterangan sehat dari dokter. Kemungkinan adanya penyakit bawaan yang tidak diketahui panitia akan dikonfirmasi kepada keluarga Wisnu. Pilihan otopsi untuk mengungkap penyebab kematian ditolak oleh pihak keluarga. Dikutip oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, pihak keluarga percaya bahwa kematian Wisnu adalah takdir. Hingga saat ini penyebab kematian Wisnu secara pasti masih diselidiki oleh Polres Cimahi.

Dari pihak rektorat ITB sendiri menjelaskan bahwa kegiatan orientasi tersebut illegal karena belum mendapat pemberitahuan mengenainya. Seharusnya, setiap kegiatan kemahasiswaan disampaikan oleh mahasiswa ke Kepala Program Studi untuk diteruskan pada Dekan dan pihak rektorat. Meski surat izin bertanda tangan Kepala Prodi telah dikantongi panitia, informasi tentang kegiatan rupanya tidak sampai pada Dekan.

Walaupun ITB sudah mengeluarkan SK bahwa di ITB tidak ada OS (orientasi studi) sejak tahun 2005, namun OS masih tetap berlangsung. Saya sendiri pertama kali masuk ITB, yang saat itu semua mahasiswa baru ITB disambut oleh Pak Rektor di Sabuga, Pak Rektor mengatakan bahwa OS sudah tidak ada lagi di ITB.

OS yang menggunkan kekerasan sekarang sudah tidak jamanya lagi. OS sebetulnya sangat bermanfaat. OS yang selama ini saya ikuti membuat satu angkatan menjadi kompak, termasuk outbond. Namun kejadian ini menjadi pelajaran agar kita lebih peka dalam mensikapi kondisi teman kita, karena sudah menyangkut nyawa. Dan satu lagi hal yang utama adalah seperti nasehat salah satu teman saya, “Life is too short”.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: