Home > Serba-Serbi > Laptop Saya Masih Tertinggal di Kereta

Laptop Saya Masih Tertinggal di Kereta

Kasus I

Ada seorang bapak yang pergi ke kantornya katakanlah dari Cikampek ke Jakarta dengan kereta api. Sesampainya di kantornya bapak tersebut tersadar bahwa laptopnya masih tertinggal di kereta. Tetap tidak panik kemudian bapak tersebut menelpon ke stasiun “Maaf pak, Saya tadi naik kereta jurusan Cikampek –Jakarta pukul sekian, laptop saya merk ini warna ini masih tertinggal di kereta”

Jawab petugas stasiun “Oh baik Bapak, silakan tunggu sekitar satu setengah jam, nanti bapak akan kami hubungi kembali”.

Satu setengah jam kemudian petugas kereta api menelpon bapak tersebut “Laptop bapak sudah kami temukan, silakan bapak mengambil di stasiun Gambir. Tetapi kalau bapak sedang sibuk, barangkali kami harus mengantar laptopnya ke kantor bapak ?”

Kasus II

Pada suatu siang seseorang kakek mengambil uangnya di mesin ATM . Setelah memproses pengambilan uang di mesin ATM, rupanya kakek tersebut lupa mengambil uangnya. Kemudian pada malam harinya dia baru sadar bahwa uangnya masih tertinggal di ATM.

Tetapi beberapa saat kemudian polisi menelpon rumah kakek tersebut “Uang bapak kami temukan masih tertinggal di ATM. Sekarang uangnya di kantor polisi. Tetapi barangkali bapak sedang sibuk, uangnya akan kami antar ke rumah bapak ?”

Kasus III

Ada seorang pedagang, karena ada urusan kemudian dia meninggalkan barang daganganya. Setelah urusanya selesai, dia kembali lagi dan dia dapati barang-barang daganganya masih utuh tidak kurang satu apapun.

Kasus IV

Seorang nasabah menyimpan uangnya di bank. Ketika dia mengecek uangnya di mesin ATM, belum sempat uangnya diambil, uangnya sudah hilang. Setelah diselidiki ternyata manager bank nya lah yang mengambil uang nasabah tersebut.

Kasus V

Di suatu ujian seleksi masuk perguruan tinggi, para peserta satu kelas sepakat untuk mencontek. Bila tidak mencontek, maka kemungkinan besar tidak bisa lolos seleksi masuk.

Dari kasus I, II, dan III, di atas kita  merasakan ketentraman. Bayangkan saja apabila barang berharga kita tertinggal di angkutan umum kemudian ada orang yang mengantar barang tersebut kepada kita.

Kalau kita melihat kasus IV dan V, membuat dada sesak dan sulit bernapas. Betapa tidak. Tidak ada rasa kenyamanan. Seandainya kita adalah pendidik di perguruan tinggi, tentu saja kita menolak siswa yang masuk dengan cara curang.

Kasus serupa dengan kasus I pernah dijumpai di Jepang.  Kasus serupa dengan kasus III pernah dijumpai di Mekah. Sedangkan kasus IV dan V entah terjadi di mana.

Dari kasus-kasus di atas bisa digaris bawahi bagaimana arti honesty atau kejujuran. Teknologi bisa dibangun bila didasari dengan kejujuran. “Modern devices will never exist without honesty”. Di Jepang teknologi menjadi sangat bermanfaat karena berlandaskan kejujuran.

Sebagaimana keimanan, kejujuran dibangun dari kebiasaan.

Ah, mencontek sekali ga pa pa lah. Dua kali biarin aja lah, tiga kali, empat kali. Lama-lama mencontek menjadi hal yang biasa.

Zero tolerance

Rasulullah sendiri mengajarkan kejujuran dalam kisah yang terkenal. “Kalau saja Fatimah binti Muhammad mencuri akan saya potong tangannya”.

Kita tidak heran dengan kasus di Mekah, Penduduk Mekah percaya kepada Allah Yang Maha Mengawasi. Ketika adzan dikumandangkan para pedagang di sana meninggalkan barang daganganya, tidak ada barang daganganya yang hilang.

Tetapi bagaimana dengan Jepang. Bisa dikatakan orang Jepang tidak percaya akan adanya Tuhan. Bagaimana mereka memahami kejujuran.

Jawabanya tidak lain adalah seperti di dalam Al Qur’an Surat Al Isra’ : 7. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.

Orang Jepang sangat meyakini bahwa apa yang mereka perbuat akan kembali kepada diri mereka sendiri.

Meskipun orang Jepang menjunjung tinggi kejujuran, tetapi orang jepang tidak memiliki ketauhidan. Tercatat bahwa di Jepang setiap menit ada satu orang bunuh diri.

Khatib mengajak, tidak ada kata putus asa untuk menegakkan kejujuran. Dengan kondisi sekarang tidak ada kata menyerah untuk kejujuran.

Intisari diambil dari
Khutbah Jum’ah Masjid Salman ITB 19 Februari 2010
Ir. Hermawan K Dipojono, M.SEE.,Ph.D
Dosen Teknik Fisika ITB, Pembina Masjid Salman ITB

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: