Home > Serba-Serbi > Badminton & Sepak Bola

Badminton & Sepak Bola

Berawal ketika aku masih kecil sekitar SD kelas satu. Saat itu aku sering diajak bapakku badminton di GOR kecamatan. Di sana aku ga main badminton karena anak kecil di sana cuman aku sendiri. Aku cuman melihat bapakku main badminton sama teman-temanya. Waktu itu aku masih belum mengerti bagaimana seni bermain badminton, jadinya di gor cuman bengong doang. Tetapi setiap ke sana aku ditraktir teh anget sama sedikit cemilan sama bapakku, lumayan lah, hehe. Pernah juga temenya bapakku bilang kepadaku “Badminton yang rajin, biar jago seperti bapak”. Tetapi waktu itu aku belum tahu jagonya bapakku seperti apa, ya, seperti yang aku bilang tadi, aku belum ngerti seni badminton.

Waktu SD aku main badminton kalo lagi pingin aja sama temen temenku, jadinya jarang banget main badminton.  Pas aku kelas 4 SD, aku suka sekali main bola. Tiap sore aku main bola sama temen2 di kampung. Trus aku juga gila nonton bola. Waktu itu jamanya Liga Italia atau Lega Calcio. Pemain2 terbaik dunia seperti Zinedine Zidane, Hernan Crespo, Gabriel Omar Batistuta, Marcelo Salas, Pavel Nedved, dll merumput di Lega Calcio.  Liga inggris masih belum apa-apa, paling2 MU doang yang bagus karena ada Beckham, Smeichel, Gigs.

Tim jagoanku adalah Bainconeri alias Juventus. Semua pemain Juventus aku apal. Mulai dari Van der Sar, Pesoto, Ferara, Edgar David, Zambrota, Zidane, Del piero, Inzaghi, dll. Ga cuma juventus, pemain tim2 lain di liga calcio aku banyak apal. Bahkan nama stadion tiap tim serie A juga apal. Kalo Juventus main, aku pasti nonton. Tiap sabtu ada ulasan hasil pertandingan Lega Calcio, aku wajib nonton. Aku bisa kecewa berat kalo telat nonton meski hanya 5 menit. Waktu itu belum ada internet, informasi masih terbatas. Namanya juga gila bola, aku rela menyisihkan uang jajanku buat beli koran olah raga yang keluar tiap Selasa dan Jumat.

Melihat aku gila bola, bapakku bilang “Kalo main sepak bola bapak senang. Dulu waktu kecil, tiada hari tanpa main bola. Tapi kalo nonton bola, bapak nggak tertarik. Kalo badminton beda lagi. Bapak senang main badminton dan nonton badminton”.

Saat SMP hingga SMA  tim jagoanku berpindah ke AC Milan karena ada si Kaka. Namun kegilaanku nonton bola semakin berkurang. Kata-kata bapakku berpengaruh juga. Saat itu AC Milan berhasil juara Liga Champion. Namun aku jadi berpikir, apa sebetulnya yang kuperoleh dari gila bola. Apa dengan tim yang kita jagokan jadi juara, kemudian kita merasa jumawa “Tuh, tim ku juara kan. Tim yang lain kalah”. Padahal kita cuman jadi penonton. So What!

Mulai SMA kelas 3, rasa gila bolaku hilang. AC Milan menang atau kalah, ga ada efeknya kepadaku. Kalo menang, aku biasa aja. Kalo kalah, aku juga biasa aja. Mulai saat itu aku jarang dan hampir tidak pernah menonton bola. Bukan berarti menonton sepak bola tidak boleh. Pak guruku di SMA, Pak Dias namanya. Pak Dias bisa melihat sepak bola dari sudut pandang berbeda. Saat itu Pak Dias menceritakan bagaimana Manchester United bisa menjuarai Liga Champion tahun 1998, yang sebelumnya tertinggal di babak pertama 0-1 oleh Bayer Munich, bisa mengejar dan mencetak dua gol yang keduanya terjadi di injury time babak kedua. Kemudian Pak Dias menceritakan bagaimana Liverpool juara Liga Champion tahun 2005 yang sebelumnya tertinggal 0-3 oleh AC Milan bisa mengejar ketertinggalan menjadi 3-3 dan akhirnya memaksa AC Milan adu pinalti. Ternyata Liverpool menang adu pinalti. Ada pelajaran yang bisa diambil dari sini, lakukan yang terbaik dan jangan pernah menyerah selama masih ada waktu yang tersisa. Ini dia.

Pak Dias suka mengamati sepak bola terutama Pak Dias suka pemain yang muslim seperti Zidane dan Ribery, karena pemain muslim tidak mau ke tempat hiburan malam main perempuan dan minum minuman keras.

Di bangku kuliah saya kurang olah raga bila dibandingkan dengan bapakku. Mungkin sejak masih muda bapakku bisa 3-5 kali olah raga dalam seminggu baik tenis maupun badminton. Sedangkan aku cuman joging seminggu sekali di Sabuga. Kalo badminton hanya sebulan sekali. Hingga pada liburan lebaran kemarin aku diajak main badminton bapakku ke gor kelurahan.  Kalau di daerahku, hampir setiap kelurahan ada gor badminton dan main di situ gratis. Paling cuman bayar shuttlecock, @Rp2500,- Berbeda dengan di Bandung yang harus bayar lapangan sejam Rp20.000,- belum termasuk shuttlecock.

Di gor kelurahan  aku bermain berpasangan dengan bapakku melawan orang yang biasa main di situ yang seumuran bapakku. Aku sama bapakku kalah karena aku tidak pintar main. Musuh mengarahkan bola kepadaku terus. Tetapi kemudian aku baru bisa melihat bagaimana kemampuan bapakku main badminton. Bapakku badmintonya jago sekali. Ketika bapakku main lagi berpasangan dengan orang lain, lawanya dibantai kalah telak lewat smash yang dilancarkan bapak. Pantas saja di rumah ada piala kejuaraan badminton milik bapak. Kemudian aku bertanya kepada bapakku, “Bapak di sini paling jago badminton ya ?”. Bapakku menjawab, “Orang di sini memang pada ga bisa main badminton, main badminton bukan untuk cari menang tapi cari keringat biar sehat”. Wah, padahal orang-orang di kelurahan menurutku jago-jago.

Setelah itu aku jadi rajin badminton. Mungkin darah badminton menurun dari bapakku kepadaku. Sekarang seminggu tiga kali aku main badminton sama teman-teman angkatan. Kemarin aku ikut turnamen badminton di jurusan, aku berpasangan dengan Faisal temenku dan dapet medali perunggu. Lumayan.

Berbeda dengan sepak bola, nonton badminton bagiku banyak manfaatnya, misalnya jadi ngerti gimana cara service yang baik, gimana cara jumping smash, trus gimana posisi yang benar ketika bermain ganda. Dan memang benar juga kata bapakku, badminton bukan untuk cari menang tapi cari keringat biar sehat. Kalau cari menang, justru mainya tegang. Tapi kalo tujuanya cari keringat biar sehat, main badminton menjadi fun, pikiran fresh, dan segar.

  1. trunks
    December 3, 2010 at 10:24

    ayo main single rif.
    aku dah siap melawanmu!

  2. ouzai
    December 25, 2010 at 23:55

    hm,
    “badminton bagiku banyak manfaatnya”
    saya Setuju!

  3. ariefh
    December 26, 2010 at 21:33

    Kamu apa pernah main yik?

  4. ouzai
    December 29, 2010 at 07:31

    za pernah nuw!
    meski sering dibabat habis hehe..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: