Home > Renungan > Kajian Asmaul Husna : Al Ghani

Kajian Asmaul Husna : Al Ghani

Kemarin tanggal 3 Februari saya ikut pengajian Aa gym di Daarut Tauhid. Materi yang dibahas adalah tentang sifat Alloh Al Ghani (Maha kaya).

Kaya yang haqiqi bukanlah kaya harta tetapi kaya hati. Seorang koruptor gajinya lebih dari cukup, tetapi mengapa masih mengambil yang bukan hak nya?

Orang yang diperbudak harta ibarat orang haus yang meminum air laut. Makin diminum, justru makin haus.

Kemudian Aa gym menceritakan kisah nyata dari seseorang yang memiliki seorang ibu yang sangat kikir. Harta bendanya sangatlah banyak. Si ibu tersebut sangat takut mati, takut kalau harta yang dimilikinya menjadi hak suaminya. Ibu tersebut umurnya sudah cukup tua, namun dia tidak mau tinggal bersama suaminya, bahkan juga tidak mau tinggal bersama anak-anak nya sendiri, takut hartanya diambil anak-anaknya. Dia hanya tinggal bersama pembantu, dan sering gonta ganti pembantu karena merasa tidak percaya kepada pembantunya.

Kalau dia sedikit sakit, flu misalnya, maka dia segera menelpon anaknya, “Kamu nyantet saya ya?”

Sebetulnya anak-anaknya masih menyayangi ibu ini. Sauatu saat anaknya mengirimkan makanan. Namun ibunya menolak makanan tersebut, takut diracun.

Dari sini bisa diambil hikmah betapa sempitnya orang yang diperbudak harta benda. Hidup penuh dengan prasangka dan tidak bahagia.

Di sisi lain, ada kisah tentang seorang paman yang memiliki keponakan yatim piatu. Paman tersebut memiliki usaha bubur dan cukup sukses. Karena merasa kasihan, keponakanya diajari membuat bubur. Hingga kemudian keponakanya ini bisa membuat bubur dan bisa membuka usaha sendiri.

Setelah beberapa lama ternyata usaha jualan bubur si keponakan ini laku keras, bahkan orang-orang dari luar kota berdatangan untuk membeli buburnya. Sampai-sampai pelanggan rela antri untuk membeli buburnya.

Melihat pelanggan yang antri panjang, si keponakan ini justru merasa kasihan. Kemudian dia memberikan foto copy resep bubur yang dimilikinya kepada setiap pelanggan yang datang. Orang-orang justru heran, “Kenapa anda justru memberikan resep bubur anda kepada orang-orang, apakah anda tidak takut kalau usaha anda menjadi tidak laku?”

Si keponakan menjawab kurang lebih “Kenapa saya harus takut, saya bisa membuat bubur seperti ini, paman sayalah yang mengajari saya. Dan dia tetap sukses. Bukankah rizki sudah ada yang mengatur?”.

Ya, kenapa kita takut kehilangan harta? Bukankah harta kita hakikatnya adalah pemberian Alloh yang maha kaya?”.

Kalau Alloh mau memberi, mudah bagi Alloh. Kalau ingin sesuatu, mintalah sama AllohYang Maha Kaya.

 

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: