Home > Ngejunk > Curanmor : Di Tengah Gurun Pasir Cilacap

Curanmor : Di Tengah Gurun Pasir Cilacap

Konon menurut cerita, Cilacap belum ada pulau Nusakambanganya. Menurut cerita dari orang tua. Konon Werkudara mengamuk, kemudian menendang pucuk gunung Slamet hingga terbang sampe Cilacap, jadilah pulau Nusakambangan. Hahahaha

Kalau pada postingan curanmor sebelumnya saya menceritakan tentang auto 2000, kali ini saya akan menceritakan kisah curahan perasaan dan humor ketika Cilacap masih berupa gurun pasir.

Jadi di gurun pasir Cilacap itu ada kaki-kaki katakanlah si A yang sedang melakukan penjelajahan, ingin mengembara mencari ilmu kesaktian ke Klaten. Di tengah jalan bekalnya habis. Padahal dari rumah sudah membawa bekal macem-macem, ada cramping, sayur bung, sampe sambel krokot ikut dibawa semuanya. Tapi ternyata di tengah jalan di gurun Cilacap habis juga. Air ga ada, sumur juga belum ada yang buat. Jadinya dia kehausan, tenggorokanya kering. Sedangkan perjalanan masih jauh yang harus ditempuh dengan jalan kaki. Akhirnya karena kehausan di tengah gurun Cilacap, dia istirahat sejenak. Ketika dia istirahat, kemudian dia melihat seseorang katakanlah si B yang umurnya kira-kira sama denganya. Lalu dia mendatangi si B tersebut dengan maksud untuk minta air.

A : “Permisi mbah, saya kaki-kaki”

B : “Siapa?”

A : “Saya”

B : “Siapa yang nanya?”

A : “Kamu menghina ya?”

B : “Loh, yang bilang kamu bujang itu siapa,  yang bilang kamu anak muda itu siapa, yang bilang kamu balita itu siapa, Aku ngerti kamu itu kakek-kakek. Ga usah marah, kamu ke sini mau apa?”

A : “Saya mau minta air. Saya kehausan. Saya sedang mengembara, berkelana mencari jimat ke Klaten. Tapi di tengah gurun Cilacap ini bekal saya habis, air habis, semua persediaan makanan habis. Minta airnya satu botol aja!”

B : “Kamu mau minta air ke aku? Aku sedang puasa dua bulan belum makan-makan belum minum-minum kamu malah minta air.”

A : “Minta airnya sedikiiiiit aja, nanti saya bayar, ni aku bawa duit”

B : “Jadi kamu sedang bawa duit, kebetulan kalau kamu bawa duit, Ini aku di sini sedang jual dasi. Dasinya macem-macem. Sepertinya bajumu pas sekali dengan dasi ini. Kamu bayar ya”

A : “Aku sedang butuh minum butuh air, kamu malah nawarin dasi”

B : “Aku memang ga punya air. Aku punyanya cuman dasi. Dibeli lah dasinya!”

A : “Sory, dasi ???? Gila kamu ya. Aku butuh air malah ditawarin dasi. Disuruh bayar lagi.”

B : “Jadi kamu ga mau beli dasiku?”

A : “Ga!!!! Sory !!!!”

B : “Ya udah, ga apa-apa, namanya orang jualan kadang laku kadang nggak. Ya udah, kamu jangan di sini, nanti ada orang mau beli malah ga jadi gara-gara ada kamu. Pergi sana”

A : “Nanti dulu, aku mau nanya, kalau restoran yang paling dekat dari sini arahnya ke mana?”

B : “O, restoran? rumah makan? Rumah makan dari sini paling enak jalanya itu di Purbalingga”

A: “Purbalingga? Jauh apa tidak?”

B : ” Ya jauh, jalan kaki dua hari”

A : “Jalan dua hari?, kalo begitu nanti di jalan aku makan apa?”

B : “Batu sama pasir!, disuruh beli dasi ga mau. Modal kaki aja! Nanti kalau kelaparan, kakinya di potong dimakan juga ga apa2”

A : “Dasar kamu ga punya otak. Ya udah aku pergi !”

Setelah kakek A pergi, kemudian besok-besoknya kakek B tetap melakukan aktivitasnya menjual dasi.

B : ” Dasi, dasi ! Mari mari mari dibeli dibeli ! Dasi dasi dasi ! Dasi lengkap dasi lengkap ! Dasi kupu-kupu. Dasi buat kerja! Semuanya ada! Dibeli dibeli dibeli !”

Ada seseorang yang tiba-tiba datang, yaitu kakek A yang kemarin.

A : “Heh, kamu masih ingat aku apa nggak?”

B : “Siapa sih ya?”

A : “Aku yang kemarin minta air sama kamu tapi malah kamu tawari dasi”

B : “O kamu kakek yang waktu itu. Hahahaha. Gimana, kamu jadi makan di Purbalingga makan di restoran sana nggak, tapi koq kamu jadi tambah kurus kering begini?”

A : “As*m, bolak balik Purbalingga 4 hari ga dapet apa-apa”.

B : “Loh, kenapa ki? Kan aku udah ngomong di sana ada rumah makan. Kamu bisa makan di sana. Kamu kenapa jadi menggerutu begitu?” Rumah makanya apa belum dibangun atau bagaimana sih?”

A : “Rumah makanya udah dibangun di sana. Bahkan megah sekali. Dan ada airnya jernih sekali, membuat tenggorokan makin ingin minum. Tapi di sana aku ga boleh makan ga boleh minum, ga boleh beli, sia*l”

B : “Loh kenapa kamu ga boleh beli,  kamu kan kemarin bawa duit?”

A : “Bawa duit sih bawa, tapi ketika aku mau masuk ke restoran itu, aku ga boleh sama penjaganya. Masuknya harus pake dasi. Kalau ga pake dasi ga boleh.”

B : “Hahahahahahaha. Kemarin udah aku tawarin dasi di sini ga mau. Kamu malah ngeyel, malah nantang gelut. Nuduh yang nggak-nggak. Dasi cuma 10 ribu ga mau. Makanya jangan meremehkan orang lain. Hahahahaha.”

😀

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: