Home > Inspiration > “Salah!”, The Dangerous Minefield

“Salah!”, The Dangerous Minefield

Tulisan ini saya repost dari blognya kang Surya Kresnanda (http://educationnlp.wordpress.com)

Suatu hari, Toni seorang siswa SD kelas 1, begitu semangat sampai di sekolahnya. Di kelas, ia duduk manis, mendengarkan Sang Guru menjelaskan. Beberapa saat kemudian, Sang Guru bertanya, “Ada yang bisa menjawab pertanyaan ini? Berapa hasil dari tiga ditambah tiga?”. Toni mengangkat tangannya dengan semangat, “Delapan, Bu!”.

Anda bisa tebak jawaban Sang Guru?

“SALAH! Ayo, siapa lagi yang bisa menjawab?”

Semenjak itu, Toni jadi ragu untuk mengangkat tangan lagi. Mungkin bisa jadi seterusnya, karena malu pada teman-temannya.

Di tengah masyarakat, kita begitu banyak menemukan pribadi-pribadi yang penuh kekhawatiran dalam melaksanakan sesuatu, dimana semuanya berujung pada TAKUT SALAH. Ada yang mau memulai bisnis, nggak mulai-milai karena tidak ingin rugi. Ada yang mau menulis, juga tidak kunjung mengisi lembaran kertasnya karena khawatir tulisannya jelek. Bahkan ada yang mengunci rapat-rapat ide brilian dalam kepalanya hanya karena takut ada yang tidak setuju, atau menganggap idenya itu tidak istimewa.

Bagaimana manusia bertindak dan mengambil keputusan, sangat dipengaruhi oleh cara pandang terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Cara pandang tersebut berakar pada pengalaman masa lalu yang dialaminya dan tersimpan kuat di dalam pikiran bawah sadarnya sebagai Long Term Memory (memori jangka panjang). Bagaimana Pendidikan seorang anak yang notabene sangat mudah menyimpan informasi sebagai Long Term Memory ini, akan membentuk perilaku jangka panjang di masa depan. Ibarat Minefield, atau ladang ranjau, yang ranjaunya ditanam sekarang, meledaknya kemudian begitu ada orang yang menginjak pemicunya. Karena itu”SALAH!” saya ibaratkan dengan ladang ranjau berbahaya atau The Dangerous Minefield, karena proses menyalahkan akan berbahaya untuk masa depan seorang anak.

Kembali ke kisah Toni. Di sekolah, Guru menyalahkan pendapatnya. Jawaban Toni memang, salah….. jelas memang salah menurut kaidah matematika (kecuali jika menurut Map yang lain, hehehe). Namun tindakan Sang Guru hanya akan memperkuat keyakinan dalam diri Toni, bahwa, “Saya akan salah jika menjawab…”, apalagi jika Sang Guru dan orang tua di rumah menanamkan keyakinan lain bahwa “Salah itu Tabu, Salah itu Memalukan”, maka keadaan Toni pun semakin memprihatinkan.

NLP itu simple dan mudah. NLP tidak mengubah konten, namun bermain dalam konteks. Dengan NLP, kita tidak perlu berbohong dengan mengatakan bahwa Toni benar yang justru melanggar kaidah ilmu matematika. Sang Guru cukup memberitahu letak kesalahan Toni, dengan tetap mempertahankan kalimat-kalimat positif.

“Nah, delapan itu empat ditambah empat, Toni…. kalau tiga ditambag tiga berapa hayoooooo?” tetap dengan ekspresi senyum (sebagai implementasi dari bahasa tubuh) yang menunjukkan penghargaan atas keberanian Toni dalam menjawab pertanyaan.

Bagaimana dengan pendidikan di rumah? Orang tua pun perlu menerapkan konsep yang sama. Daripada menyalahkan anak atas berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan harapan, akan jauh lebih baik dengan membimbing anak hingga menemukan langkah yang tepat, sambil tetap menghargai usaha anak. Memang lebih repot dan lebih lama sih… namun apalah artinya repot sejenak jika itu bisa menghasilkan masa depan jangka panjang Sang Anak yang gemilang.

Mari membiasakan diri untuk menghargai usaha orang lain, terlepas dari salah atau benar hasilnya ^_^

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: