Home > Inspiration > Hermawan K Dipojono: Pantang Menyerah dan Selalu Berserah kepada Tuhan

Hermawan K Dipojono: Pantang Menyerah dan Selalu Berserah kepada Tuhan

Perkembangan Masjid Salman ITB, tidak lepas dari perjuangan sosok yang selalu berusaha memakmurkan masjid ini. Sikapnya yang lembut dan bersahaja, sangat disukai orang banyak. Dalam setiap kesempatan, beliau selalu mengajarkan orang-orang muda untuk pantang menyerah dan selalu berjuang serta memohon kepada Tuhan.

Adalah Hermawan Kresno Dipojono, ketua Pembina YPM Salman ITB. Pria yang akrab disapa Mas Her ini, dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 7 Februari 1956 silam. Namun, beliau dibesarkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur bernama Jember. “Saat itu, rumah saya belum memiliki listrik. Sehingga bila belajar pada malam hari, harus menggunakan lampu petromak,” kenang Hermawan ketika ditemui di sela-sela kesibukan di ruang kerjanya.

Sejak kecil, beliau terbiasa mengaji setiap malam dan membaca shalawat Nabi (Tiba’an) ketika malam Jumat serta membaca Yasin setiap malam Minggu. Waktu itu, rumah beliau tepat di depan sebuah masjid. Sehingga tidak sulit melakukan sholat berjamaah dan aktivitas keagamaan lainnya.

Takjub dengan Salman

Tahun 1974, Hermawan diterima di Teknik Fisika ITB. Sejak tahun pertamanya kuliah di ITB, dia sangat tertarik dengan masjid Salman ITB. Ketika itu, beliau begitu terpukau melihat khotib yang berkhotbah tidak menggunakan sarung dan kopiah serta bergelar profesor. Hal ini tidak biasa di Jember. “Benar-benar baru dan sesuatu yang luar biasa,” ucapnya penuh semangat.

Selain itu, beliau tertarik dengan banyaknya kegiatan di Salman di luar kegiatan shalat Jumat dan shalat 5 waktu. Beliau juga tertarik dengan dosen-dosen ITB yang banyak mengajarkan banyak hal tentang agama. “Tidak terbayang itu. Dosen ITB kok bisa ngomong agama?” ujarnya keheranan.

Sejak saat itu, Hermawan memutuskan untuk aktif di masjid Salman ITB. Keterlibatannya di masjid Salman ITB, dimulai dengan aktif dalam program Latihan Mujahid Dakwah (LMD) yang diinisiasi oleh Bang Imad. Beliau juga semakin betah berada di masjid dan memilih menjadi panitia di LMD pada tahun-tahun berikutnya.

Tahun-tahun Pertama Membangun Salman

Setelah mengikuti LMD, Hermawan bersama teman-teman alumni LMD lainnya, ditugaskan menyelenggarakan kegiatan Ramadhan untuk pertama kalinya di masjid Salman. Lantaran masih belum banyak orang yang datang ke masjid, beliau bersama teman-temanya berpikir untuk melaksanakan kegiatan yang dapat menarik orang untuk mau datang ke masjid.

Gebrakan pertama dimulai dengan mengundang Bimbo untuk bermain di depan masjid Salman pada tahun 1975. Ketika itu, banyak orang yang berduyun-duyun datang ke masjid sehingga shalat tarawih pun langsung penuh sesak. “Sibuk sekali waktu itu, sampai-sampai kita tidak ikut shalat tarawih,” tutur Hermawan.

Gebrakan berikutnya, pada Ramadhan tahun 1976, beliau bersama teman-teman di Salman, bekerjasama dengan guru-guru agama SMA-SMA di Bandung, sepakat untuk mewajibkan anak-anak SMA shalat tarawih di masjid Salman. Kehebohan pun bertambah. Bukan hanya jumlah jamaah yang penuh sesak saja. Tetapi, panitia juga disibukan dengan pekerjaan membagi-bagikan struk tanda bukti kehadiran untuk anak sekolah.

Pada tahun 1977, Hermawan dan teman-teman panitia Ramadhan Salman juga menyelenggarakan fashion show. Hebohnya, kegiatan ini dilakukan bukan di halaman masjid. Tetapi di ruangan utama masjid Salman ITB.

Tidak cukup dengan itu, mereka juga mengundang Pendeta Nasrani bernama Peter Brouwer untuk ceramah di masjid Salman mengenai Teologi. Meskipun didampingi kiai ketika berceramah, tetap saja sempat memicu konflik.

Namun, di tengah konflik publik, hal ini justru menimbulkan daya tarik tersendiri terhadap masjid Salman ITB. Orang-orang menjadi semakin tertarik dengan masjid Salman ITB. Sehingga dari tahun ke tahun, jamaahnya meningkat.

Tahun-tahun berikutnya, semakin banyak saja kegiatan yang diinisiasi di Salman. Salah satunya adalah unit Gitar Klasik dan Musik Kamar. Selain itu, Hermawan dan kawan-kawan juga membentuk paduan suara Salman.

Tahun 1978, kampus ITB diserbu dan diduduki oleh militer. Pada saat itu, semua kegiatan di kampus dibekukan. Hal ini membuat semua orang beramai-ramai kembali ke Salman. Ceramah yang awalnya diperuntukan untuk orang banyak, kini dipecah menjadi ceramah-ceramah dalam kelompok kecil yang disertai diskusi-diskusi kecil. Dari sinilah cikal bakal kegiatan mentoring di Salman muncul. Lantaran dilakukan segmentasi kelompok untuk anak SD, SMP, dan SMA yang terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok diskusi tertentu, akhirnya pola-pola ini membentuk PAS dan Karisma beserta unit-unit lainnya.

Pada tahun 1979 Bang Imad ditahan, dan bebas dari penjara tahun 1980. Namun Bang Imad kemudian pergi ke luar negeri untuk studi doktoralnya. Hal ini membuat jabatan ketua masjid Salman ITB kosong. Akhirnya, Hermawan yang saat itu baru saja berusia 23 tahun dan baru setahun lulus dari ITB, menggantikan posisi Bang Imad sebagai ketua masjid Salman ITB.

Lantaran dituntut harus mengerti permasalahan yang berkaitan dengan orang dewasa, termasuk mengenai pernikahan dan seputar masalah rumah tangga, Hermawan akhirnya memutuskan untuk menikah pada tahun 1981.

Sejak saat itu, Hermawan aktif mengurus Salman. Selain itu, beliau pun berprofesi sebagai dosen di Teknik Fisika ITB. Beliau berhenti menjabat sebagai Ketua Pelaksana Harian tahun 1984. Ketika itu, dia harus pergi meninggalkan Salman untuk mengambil gelar S2 di Amerika Serikat. Posisinya digantikan oleh Miftah Faridl.

Berjuang Hidup di Negeri Orang

Hermawan mengambil gelar S2 di University of Hawaii, Honolulu, atas beasiswa dari East-West Center Foundation, sebuah badan federal pemerintah Amerika Serikat. Beliau mengambil bidang Science in Electrical Engineering, Department of Electrical Engineering.

Lantaran terbiasa dengan masjid, hal pertama yang dicari setibanya di sana adalah masjid. Beliau langsung aktif menjadi pengurus masjid Honolulu dan Moslem Student Association. Karena menurutnya, beliau selamat karena mengenal Masjid. Berkat masjid, beliau bisa terus merasa tentram dan terjaga.

Ketika kuliah di Honolulu, beliau belum membawa anak dan istri. Namun, beliau berjanji akan membawa mereka ketika mengambil gelar S3. “Insya Allah, kalau membawa kebaikan, nanti ada jalannya. Walapun saya tidak terpikir jalannya bagaimana, karena kita bukan orang kaya,” kenangnya saat berjanji kepada istrinya.

Benar saja.Ketika mengambil program S3 di Case Western University, Cleveland, Ohio, Hermawan menepati janjinya. Anak dan istrinya beliau bawa ke Amerika untuk menetap di sana. Di sinilah awal dari masa yang beliau sebut sebagai “Spiritual Experience”.

Saat itu, beliau mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia sebesar US$650. Namun, karena membawa keluarga, beliau harus tinggal di apartemen untuk keluarga dengan biaya sewa US$450. Sisa uang yang hanya US$200 per bulannya, membuat beliau harus mencari tambahan penghasilan. Bagaimanapun juga, sisa uangnya tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya.

Pekerjaan tambahannya saat itu adalah memberi makan binatang percobaan di laboratorium Biologi. Karena hanya satu orang yang ditugaskan memberi makan binatang percobaan, membuat Hermawan tidak boleh absen menunaikan kewajibannya. Baik musim dingin atau musim panas, dirinya harus selalu hadir di laboratorium.

Beliau pun sempat melontarkan lelucon terkait pekerjaannya ketika musim libur tiba. Beliau mengaku, ketika itu kampus sepi. Terlebih lagi dengan laboratorium yang letaknya di lantai paling atas. Sudah pasti bisa sangat sepi. Terlebih lagi dengan suara hewan-hewan yang saling bersahutan. Menambah suasana menjadi sedikit angker. Ketika itu, beliau mengaku takut bila harus bekerja. “Takut kalau-kalau ada Frankenstein muncul dan mau mencelakainya,” ujarnya setengah tertawa.

Setelah menempuh pendidikan doktornya, Hermawan akhirnya harus mengikuti ujian Qualifying Exam (QE) sebagai kandidat doktor. Lantaran latar belakang pendidikannya adalah Teknik Fisika, sedangkan bidang doktoral yang diambilnya elektro, beliau agak kesulitan menjalani ujiannya. Akhirnya, dia pun gagal lulus dari dua tes yang disediakan. Padahal, dia sudah belajar keras. Saking kerasnya, rumus-rumus yang dihafalnya kerapkali menyertainya dalam mimpi ketika tidur.

Meskipun gagal, Hermawan masih punya satu kesempatan ujian lagi dengan dua pilihan. Pilihan pertama, ujian selanjutnya hanya berjarak satu bulan sejak beliau dinyatakan gagal ujian sebelumnya. Pilihan kedua, ujian selanjutnya berjarak 6 bulan dengan syarat beliau harus pindah ke kampus di kota lainnya. Bagaimanapun juga, ujian QE harus diambil paling lambat 6 bulan setelah mendaftar program S3.

Setelah berdoa dan memohon petunjuk dari Allah, Hermawan akhirnya memutuskan mengambil ujian yang akan diselenggarakan 6 bulan berikutnya. Konsekuensinya, beliau harus pindah ke kota baru, yaitu ke Ohio State University, Columbus, Ohio.

Di kota baru, beliau harus mencari pekerjaan baru lantaran uang yang dimilikinya di bank telah mencapai batas minimum. Dengan prinsip “Jangan Pernah Menyerah”, petualangan baru di kota baru pun dimulai.

Di sela-sela kesibukannya belajar, Hermawan bekerja membersihkan kamar mandi dan WC di hotel, dan menyetrika seprai serta pakaian.Di hari Sabtu dan Minggu, beliau bekerja sebagai tukang parkir di stadion sepak bola kampus yang berkapasitas 115.000 penonton.

Akhirnya, setelah 6 bulan berlalu, Hermawan berhasil lulus Qualifying Exam dan resmi memulai program doktornya di Department of Electrical Engineering The Ohio State University, Columbus, Ohio. Tidak hanya itu saja. Dia pun mendapatkan beasiswa dari profesornya yang besarnya US$1.200. Ketika itu, dia langsung mengajak anak dan istrinya liburan ke Niagara. “Nikmat sekali setelah menderita. Jadi, penderitaan itu menyebabkan seseorang merasa bahagia pada saat mendapatkan sedikit kemudahan. Jadi kita bisa bersyukur dan rasanya nikmat sekali,” kenangnya khidmat.

Ketika membersihkan kamar mandi dan WC, Hermawan sempat terkenang akan dirinya yang ketika di Salman menjadi Ketua Masjid Salman dan ceramah di mana-mana. Namun di Amerika, beliau malah jadi tukang bersih-bersih. “Pada waktu itu sedih saya. Tapi, sekarang saya bersyukur. Karena dengan begitu saya bisa menasehati mahasiswa. Jangan menyerah!,” ujarnya semangat. “Itu saya tidak hanya berteori, (tapi) saya merasakan langsung. Never ever surrender!

“Kesulitan itu sebenarnya sebuah kesempatan untuk nanti bisa merasa nikmat. Nikmat sekali,” lanjut Hermawan.

Ketika di Amerika, beliau sempat bingung memberi makan anak istri. Meminta kepada orang tua pun tidak mungkin. Selain malu, hidup orang tuanya pun tidak mudah. “Sampai saya pernah nangis, bingung. Bagaimana ini jalan keluarnya?” tandas Hermawan.

Beliau menegaskan bahwa selama di Amerika, dirinya harus menjalani perjuangan yang benar-benar sulit. Meskipun begitu, perjuangannya akhirnya terbayar dengan kesempatan jalan-jalan ke Niagara Falls beserta keluarga. “Jadi jangan berkecil hati dengan kesulitan dan keterbatasan. Nanti akan enak,” ujarnya penuh senyum.

Kembali ke Salman

Setelah 12 tahun menuntut ilmu di Amerika, Hermawan beserta keluarga akhirnya pulang ke Indonesia pada tahun 1996. Tahun 1997, beliau kembali diangkat menjadi ketua masjid Salman hingga tahun 2007.

Ketika ditanya alasan kesediaannya untuk kembali mengurus masjid Salman, Hermawan mengaku sangat senang mengurus masjid lantaran memperoleh ketentraman. Beliau juga selalu ingat dengan apa yang ditanamkan kepadanya sejak dulu, “Orang yang disayang oleh Allah itu orang yang sewaktu muda, hatinya tertanam di Masjid.”

Selain itu, mengurus masjid merupakan bentuk terima kasih Hermawan kepada Allah. Karena selama di Amerika, beliau tidak akan bisa bertahan tanpa bantuan dan petunjuk dari-Nya.

Beliau juga menekankan untuk selalu meminta dan berserah diri kepada Allah. “Kalau kamu ada apa-apa, mintanya sama Tuhan. Kalau itu baik dan membawa kebaikan buat kamu, pasti diberikan. Kalau tidak, ditunda. Jadi jangan menyerah,” ungkap Hermawan.

Daya Juang Mahasiswa Rendah

Hermawan juga mengomentari kemampuan berjuang mahasiswa sekarang yang jauh lebih rendah dibandingkan mahasiswa dulu. Menurut beliau, saat ini segalanya serba ada. Selain itu, orang tua juga terlalu banyak terlibat sehingga kemandirian mahasiswa kini rendah. Sehingga, tak heran mahasiswa saat ini tidak memiliki daya juang yang cukup. “Godaan (mereka) terlalu banyak. Kemanjaan (mereka juga) terlalu banyak,” nilainya.

Beliau percaya mahasiswa sekarang jauh lebih pintar dan terfasilitasi serta punya masa depan yang lebih baik dari mahasiswa pada zamannya. Mahasiswa sekarang hanya perlu dibangkitkan semangatnya serta dibuka wawasannya. Selain itu, perlu ditanamkan sikap jangan menyerah dan berusaha keras agar disayang oleh Tuhan. “Cause if you got it, you’ll get everything. Guaranteed!” tegas Hermawan.

Hermawan juga mengungkapkan bahwa setiap manusia memiliki potensi. Namun, mahasiswa sering tidak menyadari bahwa dirinya hebat. Potensi yang ada, seringkali dibiarkan tidur hingga mati nanti.

Bagaimana pun juga, lanjut Hermawan, para mahasiswa telah ditakdirkan menjadi khalifatullah. Sudah seharusnya mereka mulai mengasah potensi diri mereka masing-masing.

Menurut Hermawan, setidaknya ada 3 hal yang perlu mereka lakukan untuk memaksimalkan potensi diri. Pertama, mereka harus tahu kekuatannya yang tidak dimiliki orang lain. Kedua, pupuklah dan asah bakat semaksimal mungkin. Ketiga, harus berani fokus dan konsisten di bidangnya.

Hermawan berharap, ke depannya, ada mahasiswa, khususnya yang aktif di Salman, menjadi pemimpin yang disayang oleh rakyatnya. Sehingga, ketika meninggal, semua rakyat akan menangis dan merasa kehilangan. “Saya ingin anak-anak Salman jadi pemimpin seperti itu, yang disayang sama rakyatnya,” tutur Hermawan penuh harap.

Diambil dari : http://myudhaps.wordpress.com/2009/10/31/hermawan-k-dipojono-pantang-menyerah-dan-selalu-berserah-kepada-tuhan/

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: