Home > Senandung > Makna Tembang ilir ilir

Makna Tembang ilir ilir

COPAS dari teman tentang LAGU JAWA yang punya makna filosofis tinggi karena dibuat oleh Wali Songo.

Saya tidak tahu mengapa Allah SWT mengutus Wali Songo ke Tanah Jawa, sehingga cara dakwah nya pun dengan budaya Jawa seperti SYAIR terkenal ini:

ILIR – ILIR

Merupakan suatu anugerah yang tak ternilai karena kita masih diberi karunia Allah berupa kesehatan, kesejahteraan dan iman yg tertanam dalam diri melengkapi pengabdian kita kepada Allah dalam menjalankan tugas kita sehari-hari.
Tembang Ilir-ilir dalam riwayat Raden Sahid atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kalijogo diciptakan oleh Sunan Ampel atau Raden Rahmat. Sunan Kalijogo adalah salah satu wali dari sembilan wali penyebar agama islam di tanah Jawa. Tembang lir-ilir adalah salah satu tembang yang populer di kalangan orang Jawa. Di dalam tembang ini terdapat makna religius yang disampaikan lewat syair-syairnya.

Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart”. Menurut G Surya Alam, dalam bukunya “Wejangan Sunan Kalijaga”, tembang “Ilir-Ilir” tersebut mengandung nasehat atau wejangan untuk menjadi seorang Muslim yang baik.
Secara Global makna yang tersirat dalam syair-syair tembang tersebut adalah ajakan untuk menindakkan rukun Islam dan berbuat kebaikan.

Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir

Ilir Ilir baris pertama dari tembang tersebut adalah merupakan ungkapan ajakan yang dalam bahasa jawa berarti terbangun setelah tidur (ngilir). Yang dimaksud tidur di sini adalah orang-orang yang belum masuk Islam. Maka syair lir-ilir diulang-ulang agar mereka terbangun dan tersadar dan menuju kepemikiran yang lebih segar (Masuk Islam). Bagi kita yang sudah muslim perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?

Apa yang perlu dihidupkan? Hidupnya apa? Ruh? Kesadaran? Pikiran? Terserah kita, yang penting ada sesuatu yang dihidupkan. Ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

“Tandure Wis Sumilir”, benih-benih pohon sudah mulai tumbuh. Yaitu benih-benih iman yang sudah mulai tumbuh dalam hati, maka rawatlah benih-benih itu agar bersemi dan tumbuh dengan baik, karena saat benih itu tumbuh dengan baik maka akan mengeluarkan buah yang baik pula. Misalnya apabila benih tersebut dirawat dengan baik dan disirami dengan air jernih ( Istighfar, sholawat, membaca Qur’an, dll) maka niscaya tumbuhan tersebut akan tumbuh dengan baik.

 

Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar

Tak ijo royo-royo, mengandung arti bahwa tumbuhan itu tumbuh dengan subur. Tidak terkena hama atau penyakit lainnya dan sejuk dipandang. Dengan demikian kalau sudah berdzikir maka di situ akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita.

Tak sengguh penganten anyar, lalu bermakna, bahwa pribadi yang baik dan sikap yang sopan, akan disenangi banyak orang. Karena itu, dirinya bagaikan sepasang pengantin baru yang disambut gembira oleh khalayak.

Makna yang dapat dipetik dari tembang Ilir-Ilir pada bait pertama ini adalah, sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh dalam diri kita, yang dalam hal ini dilambangkan dengan tanaman yang mulai bersemi dan menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.

Selanjutnya, pada bait kedua dari tembang “˜Ilir-Ilir” tersebut mengandung makna yang sangat dalam bagi setiap muslim, dalam membentuk jiwa yang kuat, pemberani, tanpa kenal lelah dan putus asa. Sehingga akan membentuk pribadi-pribadi yang sabar, pantang menyerah demi sebuah cita-cita yang mulia.

Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi

Kata “˜Cah angon” maknanya adalah wahai anak gembala. Disini disebut anak gembala karena oleh Allah, kita telah diberikan sesuatu untuk digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya? Sebab, nafsu itu bila tidak digembalakan (diarahkan) maka si gembala dapat terjerumus kedalam lubang yang berbahaya. Dirinya bisa melakukan perbuatan maksiat dengan bebas, karena tidak ada yang di-angon (digembalakan).

Disebutkan sebanyak dua kali, yaitu “˜cah angon, cah angon” menunjukkan adanya perintah yang harus dilaksanakan. Apakah perintah yang dimaksud itu? “˜Penekno blimbing kuwi”, artinya panjatlah pohon belimbing itu. Mengapa pula Sunan Kalijaga memakai kata “Blimbing” dalam tembangnya ini? Tentu maksudnya adalah rukun Islam harus ditegakkan. Buah belimbing memiliki lima sisi, yang masing-masing sisi itu dimaknai dengan syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji (bila mampu). Kelima rukun Islam ini harus dilaksanakan oleh setiap pribadi muslim agar dapat membentuk dirinya menjadi insan kamil, yaitu manusia yang sempurna.

 

Lunyu-lunyu yo penekno kanggo ngumbah dodot iro

“Lunyu-lunyu penekno”, kanggo mbasuh / ngumbah dodot iro. Kendati licin, tetap harus dipanjat, demi membersihkan “pakaian batin” yang kotor. Maksudnya, walaupun perintah itu sulit dilalui, namun ia harus tetap melewati dengan melaksanakannya. Lalu apa gunanya? Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita yaitu pakaian taqwa. Berbagai ujian dan cobaan selalu dihadapinya dengan kesabaran, kepasrahan, dan tawakkal kepada Allah. Dan dia akan senantiasa melalui ujian itu dengan lapang dada, kendati terasa berat, sebab banyak godaannya. Namun, Allah menjelaskan, Dia tidak akan menguji atau membebankan suatu perintah kepada hambanya di luar batas kemampuan yang dimiliki oleh hamba tersebut.” Laa yukallifullahu nafsan ilaa wus’aha,” Allah tidak membenani seseorang itu, kecuali sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (QS Al-Baqarah 2:286).

 

Dodotiro dodotiro kumitir bedhah ing pinggir

Persiapkan Bekal Akhirat “Dodot iro, dodot iro, Kumitir bedah ing pinggir, Dondomana Jlumatana, Kanggo seba mengko sore.

Maksud dari syair ini adalah pakaian taqwa kita sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk itu kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kelak kita sudah siap ketika dipanggil menghadap kehadirat Alloh SWT. Oleh karena itu setiap muslim hendaknya melakukan taubat yang sesungguhnya, mau memperbaiki kesalahannya sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak. Dalam bahasa Jawa, Dodot adalah “ageman” (pakaian) dalam menggambarkan agama atau kepercayaan yang dianut.

Sedangkan kata “Kemitir bedah ing pinggir” artinya banyaknya robekan-robekan pada bagian tepi pakaian itu, hendaknya segera dijahit. Sebab, pakaian yang cacat dan rusak itu tentunya tidak pantas lagi untuk dipakai. Agar pantas digunakan lagi, maka perbaikilah.

Jlumaten jlumatono kanggo sebo mengko sore

Itulah makna dari “Dondomana Jlumatana” artinya, jahitlah bagian yang robek itu. Begitulah halnya dengan kepercayaan kita yang telah rusak, hendaknya kita bertobat dan mau memperbaiki kesalahan tersebut serta tidak mengulanginya lagi. Itulah yang dinamakan dengan taubat nasuha (taubat yang sesungguhnya).

Dengan demikian, segala perbuatan yang sudah kita perbaiki tujuannya adalah sebagai bekal kita di kehidupan akhirat kelak. Disinilah makna dari “Kanggo seba mengko sore”. Perjalanan manusia selama di dunia ini hanyalah sebagai persinggahan sementara. Awalnya dia berangkat, kemudian kembali.

Pagi dia kerja, sore sudah kembali. Jadi, perbuatan yang baik seperti shalat, zakat, puasa, haji, sedekah dan lain sebagainya itu, tujuannya adalah sebagai bekal umat Islam untuk di kehidupan akhirat.

 

Mumpung padhang rembulane

Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu.

Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.” Mumpung Padang Rembulane,

Mumpung Jembar kalangane”. Selagi masih ada waktu, bersegeralah memperbaiki diri.

Mumpung terang sinar rembulannya, dan mumpung luas waktunya. Sebab, bila sudah malam hari tanpa sinar rembulan, maka orang tak akan dapat melihat apa-apa. Ini dimaksudkan, di saat gelap orang akan sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Acapkali yang baik dijelekkan, dan yang jelek dibagus-baguskan. Artinya, selagi masih muda, selagi sinar rembulan masih memancar, segeralah berbuat kebaikan, dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan

 

Mumpung jembar kalangane

Waktu yang ada, jangan disia-siakan tanpa guna dan berlalu begitu saja tanpa hasil. Bila semua itu bisa dilaksanakan dengan baik dan sempurna, maka bergembiralah. “Yo surak o, sorak hayo”. Sebab, segala kewajiban yang dilaksanakan dengan baik dan sempurna, maka kehidupan di akhirat nanti akan mendapatkan balasan yang baik pula. Karena itu, berbahagialah mereka yang mampu melaksanakan segala kewajiban dengan baik, tanpa cacat sedikit.

 

Yo surako… surak hiyo…

Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: