BPS Pertamina EP 2011

December 6, 2011 63 comments

Sebelum diangkat menjadi pegawai tetap Pertamina EP, fresh graduate harus mengikuti tahap seleksi. Seleksi yang dilalui adalah :

  1. Psikotest
  2. Interview
  3. Medical Check Up

Setelah lolos seleksi di atas, selanjutnya PT Pertamina EP memberikan semacam training (BPS PT Pertamina EP). Apabila training ini dapat diikuti dengan baik dan disiplin, barulah secara resmi bisa diangkat menjadi pegawai tetap PT Pertamina EP.

Alhamdulillah saya baru saja mendapatkan surat panggilan untuk mengikuti BPS PT Pertamina EP tahun 2011. Ini saya share kepada pembaca isi BPS Pertamina EP 2011 :

Advertisements

Sami Yusuf – Healing

November 16, 2011 1 comment

Saat ndengerin MQ FM, secara tidak sengaja saya mendengarkan sebuah lagu bagus. Saya pikir lagunya maher zain. Tetapi ternyata lagunya Sami Yusuf. Judulnya adalah healing. Ini dia videonya, check it out :

Gimana lagunya, enak kan.. 😀

Hermawan K Dipojono: Pantang Menyerah dan Selalu Berserah kepada Tuhan

October 28, 2011 Leave a comment

Perkembangan Masjid Salman ITB, tidak lepas dari perjuangan sosok yang selalu berusaha memakmurkan masjid ini. Sikapnya yang lembut dan bersahaja, sangat disukai orang banyak. Dalam setiap kesempatan, beliau selalu mengajarkan orang-orang muda untuk pantang menyerah dan selalu berjuang serta memohon kepada Tuhan.

Adalah Hermawan Kresno Dipojono, ketua Pembina YPM Salman ITB. Pria yang akrab disapa Mas Her ini, dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 7 Februari 1956 silam. Namun, beliau dibesarkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur bernama Jember. “Saat itu, rumah saya belum memiliki listrik. Sehingga bila belajar pada malam hari, harus menggunakan lampu petromak,” kenang Hermawan ketika ditemui di sela-sela kesibukan di ruang kerjanya.

Sejak kecil, beliau terbiasa mengaji setiap malam dan membaca shalawat Nabi (Tiba’an) ketika malam Jumat serta membaca Yasin setiap malam Minggu. Waktu itu, rumah beliau tepat di depan sebuah masjid. Sehingga tidak sulit melakukan sholat berjamaah dan aktivitas keagamaan lainnya.

Takjub dengan Salman

Tahun 1974, Hermawan diterima di Teknik Fisika ITB. Sejak tahun pertamanya kuliah di ITB, dia sangat tertarik dengan masjid Salman ITB. Ketika itu, beliau begitu terpukau melihat khotib yang berkhotbah tidak menggunakan sarung dan kopiah serta bergelar profesor. Hal ini tidak biasa di Jember. “Benar-benar baru dan sesuatu yang luar biasa,” ucapnya penuh semangat.

Selain itu, beliau tertarik dengan banyaknya kegiatan di Salman di luar kegiatan shalat Jumat dan shalat 5 waktu. Beliau juga tertarik dengan dosen-dosen ITB yang banyak mengajarkan banyak hal tentang agama. “Tidak terbayang itu. Dosen ITB kok bisa ngomong agama?” ujarnya keheranan.

Sejak saat itu, Hermawan memutuskan untuk aktif di masjid Salman ITB. Keterlibatannya di masjid Salman ITB, dimulai dengan aktif dalam program Latihan Mujahid Dakwah (LMD) yang diinisiasi oleh Bang Imad. Beliau juga semakin betah berada di masjid dan memilih menjadi panitia di LMD pada tahun-tahun berikutnya.

Tahun-tahun Pertama Membangun Salman

Setelah mengikuti LMD, Hermawan bersama teman-teman alumni LMD lainnya, ditugaskan menyelenggarakan kegiatan Ramadhan untuk pertama kalinya di masjid Salman. Lantaran masih belum banyak orang yang datang ke masjid, beliau bersama teman-temanya berpikir untuk melaksanakan kegiatan yang dapat menarik orang untuk mau datang ke masjid.

Gebrakan pertama dimulai dengan mengundang Bimbo untuk bermain di depan masjid Salman pada tahun 1975. Ketika itu, banyak orang yang berduyun-duyun datang ke masjid sehingga shalat tarawih pun langsung penuh sesak. “Sibuk sekali waktu itu, sampai-sampai kita tidak ikut shalat tarawih,” tutur Hermawan.

Gebrakan berikutnya, pada Ramadhan tahun 1976, beliau bersama teman-teman di Salman, bekerjasama dengan guru-guru agama SMA-SMA di Bandung, sepakat untuk mewajibkan anak-anak SMA shalat tarawih di masjid Salman. Kehebohan pun bertambah. Bukan hanya jumlah jamaah yang penuh sesak saja. Tetapi, panitia juga disibukan dengan pekerjaan membagi-bagikan struk tanda bukti kehadiran untuk anak sekolah.

Pada tahun 1977, Hermawan dan teman-teman panitia Ramadhan Salman juga menyelenggarakan fashion show. Hebohnya, kegiatan ini dilakukan bukan di halaman masjid. Tetapi di ruangan utama masjid Salman ITB.

Tidak cukup dengan itu, mereka juga mengundang Pendeta Nasrani bernama Peter Brouwer untuk ceramah di masjid Salman mengenai Teologi. Meskipun didampingi kiai ketika berceramah, tetap saja sempat memicu konflik.

Namun, di tengah konflik publik, hal ini justru menimbulkan daya tarik tersendiri terhadap masjid Salman ITB. Orang-orang menjadi semakin tertarik dengan masjid Salman ITB. Sehingga dari tahun ke tahun, jamaahnya meningkat.

Tahun-tahun berikutnya, semakin banyak saja kegiatan yang diinisiasi di Salman. Salah satunya adalah unit Gitar Klasik dan Musik Kamar. Selain itu, Hermawan dan kawan-kawan juga membentuk paduan suara Salman.

Tahun 1978, kampus ITB diserbu dan diduduki oleh militer. Pada saat itu, semua kegiatan di kampus dibekukan. Hal ini membuat semua orang beramai-ramai kembali ke Salman. Ceramah yang awalnya diperuntukan untuk orang banyak, kini dipecah menjadi ceramah-ceramah dalam kelompok kecil yang disertai diskusi-diskusi kecil. Dari sinilah cikal bakal kegiatan mentoring di Salman muncul. Lantaran dilakukan segmentasi kelompok untuk anak SD, SMP, dan SMA yang terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok diskusi tertentu, akhirnya pola-pola ini membentuk PAS dan Karisma beserta unit-unit lainnya.

Pada tahun 1979 Bang Imad ditahan, dan bebas dari penjara tahun 1980. Namun Bang Imad kemudian pergi ke luar negeri untuk studi doktoralnya. Hal ini membuat jabatan ketua masjid Salman ITB kosong. Akhirnya, Hermawan yang saat itu baru saja berusia 23 tahun dan baru setahun lulus dari ITB, menggantikan posisi Bang Imad sebagai ketua masjid Salman ITB.

Lantaran dituntut harus mengerti permasalahan yang berkaitan dengan orang dewasa, termasuk mengenai pernikahan dan seputar masalah rumah tangga, Hermawan akhirnya memutuskan untuk menikah pada tahun 1981.

Sejak saat itu, Hermawan aktif mengurus Salman. Selain itu, beliau pun berprofesi sebagai dosen di Teknik Fisika ITB. Beliau berhenti menjabat sebagai Ketua Pelaksana Harian tahun 1984. Ketika itu, dia harus pergi meninggalkan Salman untuk mengambil gelar S2 di Amerika Serikat. Posisinya digantikan oleh Miftah Faridl.

Berjuang Hidup di Negeri Orang

Hermawan mengambil gelar S2 di University of Hawaii, Honolulu, atas beasiswa dari East-West Center Foundation, sebuah badan federal pemerintah Amerika Serikat. Beliau mengambil bidang Science in Electrical Engineering, Department of Electrical Engineering.

Lantaran terbiasa dengan masjid, hal pertama yang dicari setibanya di sana adalah masjid. Beliau langsung aktif menjadi pengurus masjid Honolulu dan Moslem Student Association. Karena menurutnya, beliau selamat karena mengenal Masjid. Berkat masjid, beliau bisa terus merasa tentram dan terjaga.

Ketika kuliah di Honolulu, beliau belum membawa anak dan istri. Namun, beliau berjanji akan membawa mereka ketika mengambil gelar S3. “Insya Allah, kalau membawa kebaikan, nanti ada jalannya. Walapun saya tidak terpikir jalannya bagaimana, karena kita bukan orang kaya,” kenangnya saat berjanji kepada istrinya.

Benar saja.Ketika mengambil program S3 di Case Western University, Cleveland, Ohio, Hermawan menepati janjinya. Anak dan istrinya beliau bawa ke Amerika untuk menetap di sana. Di sinilah awal dari masa yang beliau sebut sebagai “Spiritual Experience”.

Saat itu, beliau mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia sebesar US$650. Namun, karena membawa keluarga, beliau harus tinggal di apartemen untuk keluarga dengan biaya sewa US$450. Sisa uang yang hanya US$200 per bulannya, membuat beliau harus mencari tambahan penghasilan. Bagaimanapun juga, sisa uangnya tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya.

Pekerjaan tambahannya saat itu adalah memberi makan binatang percobaan di laboratorium Biologi. Karena hanya satu orang yang ditugaskan memberi makan binatang percobaan, membuat Hermawan tidak boleh absen menunaikan kewajibannya. Baik musim dingin atau musim panas, dirinya harus selalu hadir di laboratorium.

Beliau pun sempat melontarkan lelucon terkait pekerjaannya ketika musim libur tiba. Beliau mengaku, ketika itu kampus sepi. Terlebih lagi dengan laboratorium yang letaknya di lantai paling atas. Sudah pasti bisa sangat sepi. Terlebih lagi dengan suara hewan-hewan yang saling bersahutan. Menambah suasana menjadi sedikit angker. Ketika itu, beliau mengaku takut bila harus bekerja. “Takut kalau-kalau ada Frankenstein muncul dan mau mencelakainya,” ujarnya setengah tertawa.

Setelah menempuh pendidikan doktornya, Hermawan akhirnya harus mengikuti ujian Qualifying Exam (QE) sebagai kandidat doktor. Lantaran latar belakang pendidikannya adalah Teknik Fisika, sedangkan bidang doktoral yang diambilnya elektro, beliau agak kesulitan menjalani ujiannya. Akhirnya, dia pun gagal lulus dari dua tes yang disediakan. Padahal, dia sudah belajar keras. Saking kerasnya, rumus-rumus yang dihafalnya kerapkali menyertainya dalam mimpi ketika tidur.

Meskipun gagal, Hermawan masih punya satu kesempatan ujian lagi dengan dua pilihan. Pilihan pertama, ujian selanjutnya hanya berjarak satu bulan sejak beliau dinyatakan gagal ujian sebelumnya. Pilihan kedua, ujian selanjutnya berjarak 6 bulan dengan syarat beliau harus pindah ke kampus di kota lainnya. Bagaimanapun juga, ujian QE harus diambil paling lambat 6 bulan setelah mendaftar program S3.

Setelah berdoa dan memohon petunjuk dari Allah, Hermawan akhirnya memutuskan mengambil ujian yang akan diselenggarakan 6 bulan berikutnya. Konsekuensinya, beliau harus pindah ke kota baru, yaitu ke Ohio State University, Columbus, Ohio.

Di kota baru, beliau harus mencari pekerjaan baru lantaran uang yang dimilikinya di bank telah mencapai batas minimum. Dengan prinsip “Jangan Pernah Menyerah”, petualangan baru di kota baru pun dimulai.

Di sela-sela kesibukannya belajar, Hermawan bekerja membersihkan kamar mandi dan WC di hotel, dan menyetrika seprai serta pakaian.Di hari Sabtu dan Minggu, beliau bekerja sebagai tukang parkir di stadion sepak bola kampus yang berkapasitas 115.000 penonton.

Akhirnya, setelah 6 bulan berlalu, Hermawan berhasil lulus Qualifying Exam dan resmi memulai program doktornya di Department of Electrical Engineering The Ohio State University, Columbus, Ohio. Tidak hanya itu saja. Dia pun mendapatkan beasiswa dari profesornya yang besarnya US$1.200. Ketika itu, dia langsung mengajak anak dan istrinya liburan ke Niagara. “Nikmat sekali setelah menderita. Jadi, penderitaan itu menyebabkan seseorang merasa bahagia pada saat mendapatkan sedikit kemudahan. Jadi kita bisa bersyukur dan rasanya nikmat sekali,” kenangnya khidmat.

Ketika membersihkan kamar mandi dan WC, Hermawan sempat terkenang akan dirinya yang ketika di Salman menjadi Ketua Masjid Salman dan ceramah di mana-mana. Namun di Amerika, beliau malah jadi tukang bersih-bersih. “Pada waktu itu sedih saya. Tapi, sekarang saya bersyukur. Karena dengan begitu saya bisa menasehati mahasiswa. Jangan menyerah!,” ujarnya semangat. “Itu saya tidak hanya berteori, (tapi) saya merasakan langsung. Never ever surrender!

“Kesulitan itu sebenarnya sebuah kesempatan untuk nanti bisa merasa nikmat. Nikmat sekali,” lanjut Hermawan.

Ketika di Amerika, beliau sempat bingung memberi makan anak istri. Meminta kepada orang tua pun tidak mungkin. Selain malu, hidup orang tuanya pun tidak mudah. “Sampai saya pernah nangis, bingung. Bagaimana ini jalan keluarnya?” tandas Hermawan.

Beliau menegaskan bahwa selama di Amerika, dirinya harus menjalani perjuangan yang benar-benar sulit. Meskipun begitu, perjuangannya akhirnya terbayar dengan kesempatan jalan-jalan ke Niagara Falls beserta keluarga. “Jadi jangan berkecil hati dengan kesulitan dan keterbatasan. Nanti akan enak,” ujarnya penuh senyum.

Kembali ke Salman

Setelah 12 tahun menuntut ilmu di Amerika, Hermawan beserta keluarga akhirnya pulang ke Indonesia pada tahun 1996. Tahun 1997, beliau kembali diangkat menjadi ketua masjid Salman hingga tahun 2007.

Ketika ditanya alasan kesediaannya untuk kembali mengurus masjid Salman, Hermawan mengaku sangat senang mengurus masjid lantaran memperoleh ketentraman. Beliau juga selalu ingat dengan apa yang ditanamkan kepadanya sejak dulu, “Orang yang disayang oleh Allah itu orang yang sewaktu muda, hatinya tertanam di Masjid.”

Selain itu, mengurus masjid merupakan bentuk terima kasih Hermawan kepada Allah. Karena selama di Amerika, beliau tidak akan bisa bertahan tanpa bantuan dan petunjuk dari-Nya.

Beliau juga menekankan untuk selalu meminta dan berserah diri kepada Allah. “Kalau kamu ada apa-apa, mintanya sama Tuhan. Kalau itu baik dan membawa kebaikan buat kamu, pasti diberikan. Kalau tidak, ditunda. Jadi jangan menyerah,” ungkap Hermawan.

Daya Juang Mahasiswa Rendah

Hermawan juga mengomentari kemampuan berjuang mahasiswa sekarang yang jauh lebih rendah dibandingkan mahasiswa dulu. Menurut beliau, saat ini segalanya serba ada. Selain itu, orang tua juga terlalu banyak terlibat sehingga kemandirian mahasiswa kini rendah. Sehingga, tak heran mahasiswa saat ini tidak memiliki daya juang yang cukup. “Godaan (mereka) terlalu banyak. Kemanjaan (mereka juga) terlalu banyak,” nilainya.

Beliau percaya mahasiswa sekarang jauh lebih pintar dan terfasilitasi serta punya masa depan yang lebih baik dari mahasiswa pada zamannya. Mahasiswa sekarang hanya perlu dibangkitkan semangatnya serta dibuka wawasannya. Selain itu, perlu ditanamkan sikap jangan menyerah dan berusaha keras agar disayang oleh Tuhan. “Cause if you got it, you’ll get everything. Guaranteed!” tegas Hermawan.

Hermawan juga mengungkapkan bahwa setiap manusia memiliki potensi. Namun, mahasiswa sering tidak menyadari bahwa dirinya hebat. Potensi yang ada, seringkali dibiarkan tidur hingga mati nanti.

Bagaimana pun juga, lanjut Hermawan, para mahasiswa telah ditakdirkan menjadi khalifatullah. Sudah seharusnya mereka mulai mengasah potensi diri mereka masing-masing.

Menurut Hermawan, setidaknya ada 3 hal yang perlu mereka lakukan untuk memaksimalkan potensi diri. Pertama, mereka harus tahu kekuatannya yang tidak dimiliki orang lain. Kedua, pupuklah dan asah bakat semaksimal mungkin. Ketiga, harus berani fokus dan konsisten di bidangnya.

Hermawan berharap, ke depannya, ada mahasiswa, khususnya yang aktif di Salman, menjadi pemimpin yang disayang oleh rakyatnya. Sehingga, ketika meninggal, semua rakyat akan menangis dan merasa kehilangan. “Saya ingin anak-anak Salman jadi pemimpin seperti itu, yang disayang sama rakyatnya,” tutur Hermawan penuh harap.

Diambil dari : http://myudhaps.wordpress.com/2009/10/31/hermawan-k-dipojono-pantang-menyerah-dan-selalu-berserah-kepada-tuhan/

Steve Jobs

October 18, 2011 1 comment

Baru saja kita mendengar di berita-berita bahwa Steve Jobs meninggal dunia. Sebetulnya siapa Steve Jobs, sehingga banyak yang merasa bahwa dunia kehilangan 1 orang jenius. Seperti apa kejeniusanya? Mari kita simak kisah hidup dalam pidatonya ketika acara  “commencement speech” di hadapan lulusan Stanford University tahun 2005.

“Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.”

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran bayi perempuan karena ingin. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab:“Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya yang hanya pegawai rendah habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:

Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Sekali lagi, Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi,takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz (Steve Wozniak) dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Loh,, bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? tapi memang itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Bisa anda bayangkan kerja keras bertahun-tahun membangun kerajaan berakhir dengan anda berada di depan gerbangnya.

Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpuk batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun asangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.

Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog“, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.
Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Always Stay Hungry. Stay Foolish.

There are no perfect fathers, but a father will always love perfectly

October 10, 2011 Leave a comment

GBC ITB 2011

October 7, 2011 Leave a comment

Mother (Ibu)

September 30, 2011 Leave a comment

My mom only had one eye.  I hated her… she was such an embarrassment

Ibuku hanya mempunyai satu buah mata. Aku membencinya…Dia sangatlah memalukan

She cooked for students & teachers to support the family.

Dia bekerja memasak disekolah untuk murid dan guru untuk membantu menafkahi keluarga

There was this one day during elementary school where my mom came to say hello to me.

Pada suatu hari ketika aku di Sekolah Dasar ibuku datang menghampiri dan menyapaku

I was so embarrassed. How could she do this to me?!

Aku sangat malu. Beraninya dia melakukan hal ini padaku

I ignored her, threw her a hateful look and ran out.

Aku mengingkarinya, memandangnya dengan penuh kebencian lalu aku berlari menjauhinya

The next day at school one of my classmates said, “EEEE, your mom only has one eye!”

Hari berikutnya disekolah salah satu teman kelasku berkata, “EEEE, Ibumu hanya punya satu mata, ya!”

I wanted to bury myself. I also wanted my mom to just disappear.

Aku berusaha mengubur gejolak perasaanku. Kemudian aku mencari ibuku untuk menumpahkan segalanya

So I confronted her that day and said, ” If you’re only gonna make me a laughing stock, why don’t you just die?!!!”

Lalu hari itu aku memakinya dengan berkata, “Kalau kamu hanya membuatku malu, kenapa kamu tidak mati saja?!!!”

My mom did not respond!!!

Ibuku hanya diam seribu kata !!!

I didn’t even stop to think for a second about what I had said, because I was full of anger.

Aku bahkan tidak mau berpikir kedua kali atas apa yang telah ku ucapkan, karena aku sangat marah kepadanya.

I was oblivious to her feelings…

Aku melupakan perasaannya

I wanted out of that house..

Aku segera keluar dari rumah

So I studied real hard, got a chance to go to Jakarta to study.

Aku belajar sangat giat, agar punya kesempatan untuk belajar ke Jakarta

Then, I got married. I bought a house of my own. I had kids of my own. I was happy with my  life

Kemudian aku menikah. Aku membeli rumah dengan keringatku sendiri. Lalu Aku punya beberapa anak. Aku sangat bahagia dengan hidupku

Then one day, my mother came to visit me. She hadn’t seen me in years and she didn’t even meet her grandchildren!.

Lalu disuatu hari, ibuku datang mengunjungiku. Dia tidak pernah bertemu denganku selama beberapa tahun dan bahkan dengan cucunya !.

When she stood by the door, my children laughed at her.

Ketika dia berdiri di depan pintu, anakku mentertawakannya

I screamed at her, “How dare you come to my house and scare my children!” GET OUT OF HERE! NOW!!!”

Aku berteriak keras kepadanya, “Beraninya kamu datang kerumahku dan menakuti anakku!” PERGI DARI SINI!   SEKARANG!!!”

And to this, my mother quietly answered, “Oh, I’m so sorry. I may have gotten the wrong address,” and she disappeared out of sight.

Melihat hal ini, ibuku menjawab dengan lemas,”Oh, maafkan saya. Saya mungkin sudah salah alamat,” Dan kemudian dia  menghilang dari pandangan.

One day, a letter regarding a school reunion came to my house.

Suatu hari, datanglah undangan reuni sekolah datang kerumahku

So I lied to my wife that I was going on a business trip…

Kemudian aku berbohong pada istriku bahwa aku akan pergi untuk urusan bisnis…

After the reunion, I went to the old shack just out of curiosity!!!.

Setelah acara reuni, aku pergi ke sebuah gubuk tua hanya untuk mengusir rasa keingintahuanku

My neighbors said that she died.

Tetanggaku berkata bahwa ibuku telah meninggal

I did not shed a single tear!!.

Akupun tidak meneteskan airmata !!.

They handed me a letter that she had wanted me to have…

Tetanggaku memberi sepucuk surat yang dititipkan ibu untukku…

“My dearest son, I think of you all the time..

“Anakku tersayang, ibu selalu memikirkanmu setiap saat..

I’m sorry that I came to Jakarta and scared your children.

Ibu minta maaf ketika ibu datang ke Jakarta  dan telah membuat  takut anakmu.

I was so glad when I heard you were coming for the reunion.

Ibu sangat senang ketika mendengar kamu datang pada acara reuni

But I may not be able to even get out of bed to see you.

Tetapi Ibu tidak mampu bahkan untuk bangkit dari tempat tidur untuk melihat wajahmu

I’m sorry that I was a constant embarrassment to you when you were growing up.

Maafkan Ibu yang selalu membuat kamu malu selama dari dulu hingga sekarang

You see……..when you were very little, you got into an accident, and lost your eye.

Dulu ketika kamu masih sangat kecil, kamu mendapat kecelakaan yang membuatmu kehilangan mata.

As a mother, I couldn’t stand watching you having to grow up with one eye.

Sebagai seorang ibu, Aku tidak tega melihat  anakku tumbuh hanya dengan satu mata

So… I gave you mine…..

Lalu….. Ibu memberikan mata ibu padamu

I was so proud of my son who was seeing a whole new world for me, in my place, with that eye.

Ibu sangat bangga ketika  anakku mampu melihat dunianya yang baru, di tempat ini, dengan mata yang ibu berikan

…With my love to you…

…Dengan segenap cintaku padamu…

…Your mother…

…I B U M U…